Semarang – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan lingkungan kampus yang bersih, sehat, dan berkelanjutan melalui pengelolaan sampah berbasis pemilahan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi dan diskusi pengelolaan sampah menuju zero waste bersama narasumber dari UNDIP, yaitu Dr.Eng. Maryono dan tim.
Diskusi ini turut dihadiri oleh Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan FISIP UNDIP S. Rouli Manalu, S.Sos., MCommSt., Ph.D., Wakil Dekan Sumber Daya Prof. Ika Riswanti Putranti, A.Md.A.K., S.H., M.H., Ph.D, serta dosen komunikasi FISIP UNDIP Dr. Yanuar Luqman, S.Sos., M.Si yang turut menjadi narasumber dalam pembahasan strategi komunikasi pengelolaan sampah di lingkungan kampus.
Dalam paparannya, Dr.Eng. Maryono menjelaskan Panduan Pengurangan, Pemilahan, Pengolahan, Pemanfaatan, dan Penanganan Sampah UNDIP (P5S-UNDIP) sebagai langkah nyata UNDIP dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan. UNDIP saat ini tengah mengembangkan sistem pemilahan sampah ke dalam enam kategori utama, yaitu sisa makanan, plastik makanan dan kemasan, kertas dan kardus, botol dan gelas plastik bersih, botol dan kaleng, serta tisu dan ampas teh. Nantinya, enam jenis tempat sampah akan disediakan di titik-titik tertentu agar seluruh sivitas akademika dapat memilah sampah sesuai kategorinya.
Menurut Dr.Eng. Maryono, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada fasilitas, tetapi juga pada cara membangun kesadaran masyarakat kampus melalui komunikasi yang tepat. “Target kita adalah bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan baik dan positif. Yang dicapai Prof. Ika sudah baik, tapi kita ingin getok tular, terutama mahasiswa karena 80% sampah itu berasal dari mahasiswa,” ujar Dr.Eng. Maryono.

Ia menekankan bahwa seluruh stakeholder di lingkungan UNDIP, khususnya FISIP, perlu memiliki kesadaran bersama tentang pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya. Selain itu, kondisi tempat sampah juga perlu dijaga tetap bersih dan nyaman agar masyarakat terdorong untuk membuang sampah sesuai kategori yang telah ditentukan.
Dari perspektif komunikasi publik, Dr. Yanuar Luqman menilai langkah yang telah dilakukan FISIP UNDIP sudah berjalan dengan baik. Namun, menurutnya, tantangan terbesar terletak pada bagaimana pesan pengelolaan sampah dapat diterima secara efektif oleh mahasiswa sebagai penyumbang sampah terbesar di lingkungan kampus.
“Dari sudut pandang komunikasi publik yang dilakukan oleh FISIP sudah oke, tapi yang menjadi PR adalah stakeholder-nya dan yang paling besar adalah mahasiswa. Terkait pemilahan sampah, selama ini pesan yang disampaikan ke mahasiswa itu bersifat direktif, seperti perintah. Kita perlu recreate pesan menjadi lebih persuasif dan dengan ikon-ikon yang lebih jelas,” jelas Dr. Yanuar Luqman.
Dalam sesi diskusi, para petugas cleaning service (CS) juga menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi di lapangan, khususnya dalam proses pemilahan sampah di area kantin, ruang kelas, maupun gedung perkantoran. Area kantin disebut sebagai salah satu titik dengan volume sampah terbesar dan paling kompleks untuk dipilah, terutama sampah plastik makanan dan sisa konsumsi. Hal tersebut menjadi perhatian serius bagi FISIP UNDIP.
Sebagai tindak lanjut, FISIP UNDIP bersama Tim Sarana dan Prasarana serta petugas kebersihan akan menyusun perencanaan pengelolaan sampah di area kantin agar sistem pemilahan dan pengurangan sampah dapat berjalan lebih optimal. Langkah ini diharapkan menjadi bagian dari budaya baru di lingkungan kampus dalam mendukung terciptanya FISIP UNDIP yang lebih hijau, bersih, dan berorientasi pada prinsip zero waste.