Semarang (10/03) – Suasana penuh kehangatan menyelimuti pelaksanaan Tarawih Keliling & Silaturahim (Tarkhim) Universitas Diponegoro (Undip) untuk bulan suci Ramadan 1447 H/2026 M yang berlangsung di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Kegiatan yang digelar pada Senin, 9 Maret 2026 di Ruang Auditorium FIMENA Gedung A Lantai 3, Kampus FISIP Undip Tembalang ini menjadi momentum penguatan nilai-nilai kebersamaan dan refleksi keilmuan di tengah keberagaman. Pada kesempatan tersebut, FISIP bersama Wakil Rektor Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Undip serta Fakultas Ilmu Budaya (FIB) mendapat kehormatan untuk bertindak sebagai Shohibul Bait atau tuan rumah.
Hadir dalam sambutannya, Wakil Rektor Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Undip, Wijayanto, S.IP., M.Si., Ph.D., menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya rasa syukur di bulan yang penuh berkah. Beliau mengajak seluruh civitas academica yang hadir untuk senantiasa mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, salah satunya adalah nikmat sehat yang memungkinkan semua pihak dapat menjalankan ibadah di bulan Ramadan dengan lancar. Lebih lanjut, ia mengakhiri sambutannya dengan sebuah harapan dan doa yang relevan dengan peran perguruan tinggi, “Semoga melalui Ramadan ini kita semua dapat memperbarui niat dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan di Kampus ini, bahwa riset yang kita kerjakan tidak sekedar menghasilkan publikasi tapi juga menghadirkan solusi bagi bangsa,”

Suasana kian khidmat saat memasuki sesi tausiah yang disampaikan oleh Prof. Dr. Musahadi, M.Ag. Dalam tausiahnya, Beliau mengangkat tema besar tentang kedewasaan dalam menyikapi dinamika kehidupan beragama. Ia menyoroti realitas perbedaan pendapat dalam memahami ilmu fikih di tengah masyarakat. Menurutnya, perbedaan tersebut bukanlah sebuah perpecahan, melainkan sebuah kekayaan intelektual yang patut disyukuri. “Meskipun kita berbeda-beda dalam hukum fikih, kita patut bersyukur, karena perbedaan-perbedaan itu nyatanya kita semakin dewasa,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa hal ini merupakan indikasi kedewasaan beragama yang luar biasa dan perlu dirawat, mengingat manusia dalam perkembangan sejarahnya selalu mengalami dinamika yang sangat kompleks.
Prof. Musahadi kemudian mengajak para jamaah untuk merenungkan esensi dari keberagaman itu sendiri, dengan mengutip firman Allah dalam Surat Al-Hujurat ayat 13. Ayat tersebut, jelasnya, memuat konsep diversity atau perbedaan yang fundamental, mulai dari diciptakannya manusia dalam bentuk laki-laki dan perempuan, serta dalam berbagai bangsa dan suku. “Perbedaan pendapat itu adalah suatu yang lumrah, tetapi yang paling penting justru adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapi perbedaan itu,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa tujuan utama dari keberagaman tersebut adalah supaya manusia saling berkenalan, sehingga antar entitas manusia dapat saling belajar, saling memahami, saling mengembangkan kecocokan cinta dan kasih sayang, serta saling bekerja sama dan bersinergi dalam mencapai tujuan bersama.

Inti dari pesan yang disampaikan adalah tentang penerimaan terhadap eksistensi pihak lain yang berbeda. Menurutnya, bukan kebenaran mutlak dari sebuah pendapat yang menjadi ukuran utama, melainkan cara kita menyikapi perbedaan tersebut. “Yang paling penting bukan bagaimana pendapat berbeda, tapi cara kita menghadapi perbedaan itu, yaitu penerimaan eksistensi pihak lain yang berbeda dengan kita,” imbuhnya. Di akhir tausiah, ia mengingatkan bahwa Allah SWT memberikan ruang bagi manusia untuk menggali kapasitas intelektualitasnya melalui ajaran agama. Hal ini bertujuan agar setiap individu dapat menemukan esensi atau tujuan utama dari diturunkannya syariah, yaitu untuk kemaslahatan seluruh umat manusia di muka bumi.
Kegiatan Tarkhim ini pun ditutup dengan suasana hangat. Dengan terselenggaranya acara ini, Universitas Diponegoro berharap nilai-nilai refleksi, kedewasaan dalam keberagaman, dan semangat pengabdian untuk bangsa dapat terus tertanam dan diimplementasikan dalam keseharian di lingkungan kampus.






0 Komentar