Customize Consent Preferences

We use cookies to help you navigate efficiently and perform certain functions. You will find detailed information about all cookies under each consent category below.

The cookies that are categorized as "Necessary" are stored on your browser as they are essential for enabling the basic functionalities of the site. ... 

Always Active

Necessary cookies are required to enable the basic features of this site, such as providing secure log-in or adjusting your consent preferences. These cookies do not store any personally identifiable data.

No cookies to display.

Functional cookies help perform certain functionalities like sharing the content of the website on social media platforms, collecting feedback, and other third-party features.

No cookies to display.

Analytical cookies are used to understand how visitors interact with the website. These cookies help provide information on metrics such as the number of visitors, bounce rate, traffic source, etc.

No cookies to display.

Performance cookies are used to understand and analyze the key performance indexes of the website which helps in delivering a better user experience for the visitors.

No cookies to display.

Advertisement cookies are used to provide visitors with customized advertisements based on the pages you visited previously and to analyze the effectiveness of the ad campaigns.

No cookies to display.

Pada Wisuda ke-164 Rektor Undip Ajak Tolak Sikap Pesimis “Lost Generation”

Posted by En_Admin

November 15, 2021

SEMARANG – Rektor Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum., mengajak semua pihak untuk menolak pendapat dan sikap pesimis bahwa generasi yang mendapatkan pendidikan secara virtual serta dibatasinya aktivitas sosial, budaya dan keagamaan akibat wabah pandemi Covid-19, akan menjadi generasi yang hilang (lost generation). Hal itu disampaikan saat memberi sambutan pada rangkaian acara Wisuda ke-164 Universitas Diponegoro Tahun 2021 yang dilakukan selama dua hari mulai Rabu (10/11/2021) hingga Kamis (11/11/2021).

Prof. Yos Johan pada acara yang digelar menggunakan platform zoom dan live streaming via channel youtube Undip TV itu mempertanyakan, “Apakah memang demikian adanya?” Generasi yang hilang atau lost generation adalah istilah yang diperkenalkan penulis Amerika Serikat yang menetap di Paris, Gertrude Stein, untuk menggambarkan orang-orang yang tidak bisa mendapatkan kesempatan belajar karena Perang Dunia I.

Istilah tersebut kemudian dipakai novelis kenamaan Ernest Hemingway dalam epigraf untuk novel tahun 1926 buatannya The Sun Also Rises: “Kamu semua adalah generasi hilang“.  Dikatakan Lost Generation karena mereka tidak mendapatkan pendidikan secara normal akibat perang sehingga mereka kehilangan harapan, keimanan dan diliputi keputusasaan.

Sekarang ini cara pandang tersebut dipakai beberapa orang terkait dengan dilakukannya sistem belajar secara daring, yang dikhawatirkan akan menghasilkan generasi yang soliter dan kurang toleran karena kurangnya kesempatan berinteraksi dengan pihak luar. “Cara pandang pesimitis tersebut tentu harus kita tolak bersama, karena selain keimanan kita kepada Allah SWT yang selalu mengajarkan optimisme dan berprasangka baik, Ana Inda zhanni Abdi bi wa ana ma’ahu iza zakarani. Di sisi lain dari pengalaman sejarah Indonesia adalah bangsa yang tangguh dan tahan terhadap segala perubahan zaman,” ujarnya saat memberi sambutan di Gedung Prof. Soedarto, S.H. Kampus Undip Tembalang Semarang, Kamis (11/11/2021).

Memang, lanjut Prof. Yos, pandangan itu tidak bisa dipungkiri bahwa adanya perubahan mendadak atau revolusi industri 4.0 dengan disrupsi dan Wabah Covid-19 telah merubah tatanan sosial. Namun ditegaskan kekhawatiran terjadinya lost generation ini dapat diatasi dengan keimanan yang diperkuat dan tentunya keberadaan keluarga sebagai pusat pendidikan sosial yang menjadi pilar utama dalam pembangunan dan pendidikan akhlak saat ini.

“Jangan bersedih, tak perlu khawatir menghadapi kondisi saat ini. Tetaplah berpikir positif, perkuat keimanan. Insya Allah kita akan diberikan kemudahan kelancaran dalam menempuh karir di masa yang akan  datang sesuai janji Allah Inna ma’al ‘usriyusron atau sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan,” ujarnya.

Pada Wisuda ke-164, berdasarkan laporan Ketua Senat Akademik Undip Prof. Ir. Edy. Rianto, M.Sc., Ph.D., IPU, diikuti 2.563 mahasiswa. Mereka terdiri dari lulusan Program Doktor sejumlah 29 orang, Magister berjumlah 200 orang, Spesialis ada 53 orang, Profesi 118 orang, Sarjana sebanyak 1577 orang. Sementara dari program Diploma III berjumlah 544 orang dan Diploma IV sebanyak 42 orang.

Kepada para wisudawan, Rektor Undip selain mengucapkan selamat juga meminta para wisudawan dan wisudawati untuk berbangga hati karena lulus dari perguruan tinggi yang masuk dalam jajaran universitas di dunia (World Class University). Rektor mengungkapkan bisa belajar di Kampus Diponegoro saja sudah suatu kebanggaan sebab seleksi masuknya sangat ketat. Bahwa melalui SNMPTN maupun SBMPTN, Undip merupakan kampus yang paling banyak diserbu oleh calon mahasiswa tertinggi kedua secara nasional.  “Menjadi alumni Undip harus bangga karena Undip saat ini menjadi salah satu kampus terbaik di Indonesia yang memiliki reputasi terbaik di tingkat nasional maupun Internasional.”

Hal lain yang patut dicatat, Undip juga perguruan tinggi dengan akreditasi A; bahkan beberapa program studi juga telah mengantongi akreditasi Internasional dari Indonesia accreditation Board for Engineering Educational (IABEE) dan FIBAA (Foundation for International Business Administration Accreditation), lembaga internasional yang terdaftar di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Prodi tersebut di antaranya ada di Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Teknik. Sementara yang akan menyusul adalah Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Fakultas Psikologi dan beberapa fakultas lainnya.

“Baru-baru ini di tingkat Internasional, Undip membuktikan mendapatkan predikat ranking pertama nasional QS Graduate Employabilty atau segi kecepatan dan ketepatan lulusan dalam mendapatkan pekerjaan. Hal ini bagi saya suatu prestasi yang tidak terbantahkan bahwa kualitas pendidikan di Undip terbaik di tingkat nasional dan di pasar kerja mengakuinya,” kata Prof. Yos Johan.

Dalam hal tata kelola, Undip juga berada di ranking dua nasional berdasarkan capaian indikator Kinerja Utama Liga PTN-BH 2021. Tidak hanya itu, para dosen Undip juga memiliki prestasi di kancah nasional maupun internasional serta para alumninya yang saat ini juga telah menduduki jabatan tertinggi di bidangnya mulai menjadi Menteri, Jaksa Agung, Duta Besar dan lainnya.

Produk riset (penelitian) juga unggul dan dipercaya sebagai penyelanggara mandiri di bidang riset. Hal ini sesuai dengan Visi Undip yakni Universitas Diponegoro sebagai Universitas Riset Unggul. “Atas ridha Allah SWT Undip telah disegani baik ditingkat nasional maupun internasional,” ujar rektor dengan bangga. (tim humas)

 

Sumber: undip.ac.id

MORE FROM @FISIP UNDIP

0 Komentar