(Poster kelas online Behind The Scene AIMAN)

Semarang—Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro bekerja sama dengan Kompas TV dalam menyelenggarakan sebuah kelas online yang bertajuk Behind The Scene Aiman: Intip Proses Produksi, dari Riset sampai On Air. Bersama dengan Aiman Witjaksono dan tim program AIMAN, mahasiswa mempelajari bagaimana produksi konten televisi dan digital.

Konsep Program Investigasi AIMAN

Pada sesi satu, Aiman Witjaksono mengungkapkan bahwa hal utama yang dibutuhkan dalam jurnalisme investigasi adalah pengetahuan. Inti dari jurnalisme yakni guna menyampaikan pesan yang tentunya membutuhkan sebuah keberanian. Keberanian akan terbentuk apabila jurnalis memiliki argumentasi yang berdasarkan pada pengetahuan.

Pengetahuan diasah dengan terus menggali informasi dan data sehingga nantinya keputusan yang diambil akan tepat dan efektif. Aiman turut menekankan pentingnya independensi yang seharusnya dimiliki oleh jurnalis, bukan sikap netral.

Data is a new oil. Orang yang tahu tentang informasi dan data, dia bisa mengambil dengan keputusan yang tepat dan cepat sehingga apa yang dia lakukan sangat efektif. Kita penting untuk tahu masa depan. Wartawan dalam menyampaikan informasi harus netral atau tidak? Tidak harus. Jurnalis harus independen,” ungkapnya.

Proses Produksi Program AIMAN

Salah seorang anggota tim program AIMAN, Ni Luh Puspa, mengatakan bahwa riset secara mendalam sangat berperan penting dalam seluruh proses produksi program AIMAN, dimulai dari pra-produksi hingga pasca-produksi. Terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan ketika melakukan riset, seperti menentukan data apa saja yang ingin diselidiki, membuat outline, mengumpulkan data, menggali kebenaran data, serta menuliskan naskah dan melaporkan hasil investigasi.

“Kalau dalam program AIMAN, biasanya dalam bentuk wawancara dan itu yang dihadirkan ke publik. Media bukan soal benar salah, tetapi fakta atau bukan. Masyarakat punya peran untuk menilai dan menentukan. Publik pun menganalisis sebuah informasi yang dihadirkan media,” terang Ni Luh.

Ia menjelaskan tahap berikutnya yang harus dipersiapkan adalah naskah. Berbeda dengan media cetak, penulisan naskah televisi didasarkan pada gambar sehingga harus dibuat singkat dan tidak bertele-tele.

“Harus singkat dan gak boleh bertele-tele. Jadi, kalau di TV, harus menggunakan bahasa bertutur, bahasa yang baik dan benar menurut KBBI. Pokoknya harus sederhana karena orang nonton per detik. Satu berita hanya 20-30 detik jadi kalau panjang orang bisa gak ngerti,” imbuhnya.

Rekan Ni Luh lainnya, Ana Ariestania melanjutkan, sebelum konten memasuki tahap penyuntingan, tim akan melakukan proses olah vokal dan bahasa gambar terlebih dahulu. Ia menekankan kunci pada proses olah vokal yakni harus paham bagaimana memanfaatkan suara dan teknik membaca, serta teknik pernapasan.

“Sebelum ada editing, dilakukan proses olah vokal atau dubbing, yaitu teknik produksi, di mana suara digunakan di tv, radio, dan sebagainya. Dubber dapat dilakukan oleh orang profesional atau awam,” pungkas Ana.

 

Penulis: Salsabila Febryanti

Reporter: Almira Khairunnisa

Editor: Annisa Qonita Andini

 

Sumber: komunikasi.fisip.undip.ac.id