Waktu Penyelenggaraan: 9 Juni 2021
Sumber: Yotube KBRI Phnom Penh TV

Pada hari Rabu, 9 Juni 2021 diselenggarakan Diskusi Panel atas kerja sama antara KBRI Phnom Penh dan Departemen Hubungan Internasional Universitas Diponegoro yang bertujuan untuk mendapatkan pandangan dari para akademisi mengenai politik luar negeri Kamboja, posisi dan fokus Kamboja saat menjabat Ketua ASEAN pada 2022 dalam hubungannya dengan Indonesia dan bagaimana Indonesia memandang ASEAN. Tercatat sekitar 170 peserta dari Indonesia, Kamboja dan beberapa negara lain yang mengikuti diskusi panel yang diselenggarakan secara hybrid ini.

Acara dibuka oleh Marten Hanura, Sekretaris Program Studi Hubungan Internasional Universitas Diponegoro bertindak sebagai Co-Host yang menyampaikan bahwa pada tahun 2022 kerjasama antara Kamboja dan Indonesia perlu ditingkatkan karena kedua negara akan menjadi Ketua pada organisasi internasional yang cukup berpengaruh. Kamboja menjadi Ketua ASEAN sedangkan Indonesia menjadi Ketua G-20 sehingga kerjasama kedua negara diharapkan bisa membantu memajukan kawasan ASEAN terutama untuk mengatasi ekonomi yang menurun dikarenakan dampak pandemi Covid 19.

“Dua puluh satu tahun setelah bergabung dalam ASEAN, Kamboja memiliki banyak kesempatan dan capaian. Diskusi panel ini akan sangat bermanfaat untuk mendapatkan informasi dari para panelis mengenai fokus Keketuaan Kamboja pada tahun 2022 untuk memperkuat identitas Komunitas ASEAN,” demikian harapan Duta Besar RI, Sudirman Haseng saat membuka Diskusi Panel bertema “the Foreign Policy of Cambodia on Bilateral and Regional Level: Its Impact and Benefits for Indonesia and ASEAN”, pada hari Rabu (9/6).  Hadir sebagai narasumber adalah Dr. Edy Prasetyono, dosen senior sekaligus Direktur Eksekutif Pusat Studi ASEAN, Universitas Indonesia, Dr. Chheang Vannarith, Presiden Asian Vision Institute, Kamboja dan Uch Leang, Acting Director of the Department of Asian, African and Middle East Studies of the International Relations Institute of Cambodia.

Para panelis menyampaikan bahwa Keketuaan ASEAN yang pada tahun 2022 akan diampu oleh Kamboja dan oleh Indonesia pada 2023 memiliki banyak kesempatan dan tantangan yang menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh anggota ASEAN dan bagi Ketua ASEAN. Dr. Edy Prasetyono menegaskan “Secara umum tantangan yang dihadapi oleh ASEAN adalah pandemi COVID-19 yang menyebabkan stagnasi bahkan penurunan ekonomi, bagaimana menyeimbangkan dan memelihara ASEAN-driven regionalism, dan menyeimbangkan kepentingan nasional dengan keterikatan dan tekanan dari negara-negara besar”. Secara khusus, Uch Leang yang mendiskusikan Keketuaan Kamboja pada tahun 2022 menyatakan bahwa kebutuhan Kamboja pada tahun 2022 sebagai ketua ASEAN adalah untuk terus menjaga dan mengelola lingkungan yang kondusif bagi perdamaian dan stabilitas guna menopang kemakmuran kawasan. Kompetisi antar negara di seputar Laut China Selatan dan masalah Myanmar yang sangat kompleks—menurut Uch Leang, akan menjadi batu panas dan ujian bagi Kamboja di tahun 2022. Kamboja akan terus mempromosikan tata kelola global untuk memperkuat sistem multilateral, memerangi perubahan iklim dan pemulihan ekonomi pasca pandemi sebagai prioritas.

Sedangkan Dr. Chheang Vannarith menggarisbawahi peran kepemimpinan Indonesia dalam ASEAN, khususnya yang memiliki keterkaitan dengan Kamboja. Dr. Vannarith memuji peran mediator yang dimainkan Indonesia dalam penyelesaian sengketa perbatasan antara Kamboja dan Thailand di tahun 2011. Menurut Dr. Chheang Vannarith, Indonesia juga berhasil memecah kebuntuan dalam proses pembuatan komunike bersama saat Kamboja menjadi ketua ASEAN tahun 2012, dengan enam poin yang diajukan oleh Dr. Marty Natalegawa, Menlu Indonesia saat itu. “ASEAN akan selalu dihadapkan pada tantangan regionalisme,” tambah Dr. Vannarith, “maka penting bagi organisasi ini untuk terus memelihara sentralitas ASEAN dan bisa mengakomodasi berbagai pengaruh eksternal.”

Para panelis menggarisbawahi pentingnya menciptakan kerja sama konkret dalam kerangka ASEAN Outlook on Indo Pacific di tengah-tengah situasi lansekap geopolitik di kawasan yang didominasi persaingan dan rivalitas antar negara. ASEAN juga diharapkan dapat mengaplikasikan berbagai deklarasi, konsensus, dan pernyataan yang dihasilkan dalam setiap pertemuan menjadi aksi nyata di lapangan.