Quiet Quitting Vs Hustle Culture, Webinar series: Human Resource Strategy

Posted by Inayah

November 4, 2022

Semarang (4/11) – Departemen Administrasi Bisnis barusaja mengadakan Kuliah Dosen Tamu bertema Quiet Quitting Vs Hustle Culture, Webinar series: Human Resource Strategy. Kegiatan yang berlangsung secara online melalui Zoom meeting pada hari Sabtu, 29 Oktober 2022 tersebut turut mengundang beberapa narasumber seperti Prof Dr Moeherjono, M.Si (Universitas Hang Tuah, Surabaya), Arik Prasetya, S.Sos, M.Si, Ph.D (Universitas Braawijaya, Malang), dan Dr Meilan Sugiarto, S.Sos, Msi (UPN Veteran Yogyakarta). Selain itu, Kuliah Tamu kali ini dimoderatori oleh salah satu dosen Administrasi Bisnis FISIP Undip, Dr. Hari Susanto Nugroho, M.Si. dan dihadiri oleh Ketua Departemen Administrasi Bisnis, Dr. Widiartanto, S.Sos, M.AB.

Dalam sambutannya, Kadep Administrasi Bisnis FISIP Undip menyebutkan bahwa webinar tersebut rencananya akan dilaksanakan secara series dan akan ada beberapa tema menarik lainnya seperti tentang manajemen keuangan, manajemen oprasi, dan human capital. Beliau juga berharap kegiatan tersebut dapat memberi pencerahan dan inspirasi kepada mahasiswa untuk menemukan topik skripsi/tugas akhir.

Kemudian, Hari Susanto selaku moderator pada Kuliah Tamu tersebut juga menambahkan bahwa kegiatan tersebut ditujukkan untuk memperoleh pembelajaran terkait bagaimana menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) secara optimal. Menurutnya, Quiet Quitting dan Hustle Culture merupakan suatu dikotomi dalam ilmu SDM. Quiet Quitting adalah bekerja sesuai dengan proporsi sebagai manusia (bekerja seadanya). Sedangkan, Hustle culture adalah bagaimaa menuntun seorang pekerja bekerja semaksimal mungkin (workaholic).

Selanjutnya, Prof Moeherjono dalam presentasinya lebih menekankan pada penjelasan terkait perilaku Quiet Quitting. Beliau menjelaskan bahwa perilaku Quiet Quitting sudah lama cukup populer di kalangan pekerja di Amerika. Salah satu faktor yang mendorong perubahan perilaku Quiet Quitting adalah Burnout. Dosen Universitas Hang Tuah, Surabaya tersebut juga menyebutkan bahwa Quiet quitting merupakan toksik baru di dunia kerja. Quiet Quitting dianggap sebagai sebuah penyakit di dunia kerja. Namun tidak semua karyawan mau melakukan Quiet Quitting. Perilaku Quite Quiting merupakan kebalikan dari Hustle Culture.

Menurut Arik Prasetya dalam materinya, Hustle culture merupakan sebuah gaya hidup baru di kalangan milenial yang menganggap dirinya akan sukses jika terus melakukan pekerjaan dan memiliki sedikit waktu istirahat. Penyebab perilaku ini antara lain karena Toxic Positivity, tidak mengenal diri sendiri, perkembangan teknologi, dan standar social masyarakat. Lebih lanjut, beliau menyimpulkan bahwa hustle culture dapat menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan fisik, mental, dan kehidupan pribadi. Walaupun bekerja dengan cukup keras, budaya ini bukanlah satu-satunya factor yang dapat menentukan produktivitas seseorang dan work life balance menjadi salah satu cara untuk mengurangi akibat buruk dari hustle culture.

Sebagai penutup kuliah tamu kali ini, Dr Meilan memberikan presentasi singkat terkait pengaruh revolusi industri 4.0 terhadap perilaku Quiet Quiting dan Hustle culture. Beliau juga menyampaikan bahwa perilaku quiet quitting dan hustle culture akan menjadi pilihan.

MORE FROM @FISIP UNDIP

0 Komentar