Semarang, 12 Mei 2026 — Departemen Politik dan Ilmu Pemerintahan dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro menyelenggarakan acara Bedah Buku bertajuk “Babad Alas” yang menghadirkan sang penulis, Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Dr. Bima Arya, sebagai narasumber utama. Bertempat di Ruang Teater FISIP Undip, kegiatan ini menjadi ajang diskusi mendalam mengenai transformasi kepemimpinan daerah, strategi pemenangan politik, hingga penguatan integritas birokrasi dalam bingkai pengalaman empiris.

Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Dekan FISIP Undip, Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin. Dalam pembukaannya, beliau menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas kehadiran Dr. Bima Arya di tengah kesibukannya sebagai Wakil Menteri. Dekan FISIP Undip juga menekankan bahwa kehadiran tokoh praktisi sekaligus akademisi seperti Dr. Bima Arya memberikan nilai tambah yang luar biasa bagi mahasiswa untuk memahami realitas politik dan pemerintahan secara konkret, melampaui teori-teori yang dipelajari di ruang kelas.
![]() |
![]() |
Sesi pemaparan yang dimoderatori oleh Bangkit Aditya Wirawan, S.Sos., M.A., Ph.D., mengupas tuntas perjalanan Dr. Bima Arya selama satu dekade memimpin Kota Bogor. Dalam presentasinya, Dr. Bima Arya membagikan transformasi dirinya dari seorang pengamat politik menjadi seorang eksekutif tangguh. Ia membedah strategi politik pada Pilkada 2013, di mana sebagai pendatang baru, ia berhasil memenangkan kompetisi melalui pendekatan yang terstruktur dengan persiapan yang lebih matang sejak 2010 lalu. Beliau turut menekankan bahwa kunci keberhasilan kepemimpinannya terletak pada pembangunan integritas di jajaran kepala dinas dan konsistensi dalam melakukan manajemen talenta untuk merekrut figur-figur kompeten ke dalam timnya.

Diskusi semakin tajam ketika Dr. Sos. Dra. Fitriyah, M.S., selaku Dosen FISIP Undip, memberikan tinjauan kritis terhadap isi buku tersebut. Dr. Fitriyah membedah makna mendalam di balik pemilihan judul “Babad Alas” yang mengambil analogi epik Mahabharata sebagai sebuah simbol perjuangan membuka ruang baru yang penuh tantangan. Ia menyoroti bagaimana buku ini merekam jejak kepemimpinan Dr. Bima Arya selama dua periode, khususnya dalam hal keberanian mengambil keputusan sulit dan konsistensinya dalam menjaga visi pembangunan kota yang berkelanjutan.
Secara keseluruhan, acara bedah buku ini menegaskan bahwa kepemimpinan politik memerlukan perpaduan antara kecerdasan strategi, kekuatan integritas, dan kemampuan membangun tim yang solid. Melalui refleksi atas karya “Babad Alas”, mahasiswa diharapkan mampu memetik pelajaran berharga mengenai etika pemerintahan dan dedikasi dalam melayani publik, sekaligus menginspirasi lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan yang berkomitmen pada perubahan substantif.


